Bagaimana anak-anak belajar empati?

Empati adalah kemampuan untuk memahami orang lain serta merasa berbelas kasihan terhadap mereka. Ini adalah hal yang menentukan kualitas manusia, termasuk membedakannya dari mesin dan binatang. Tanpa perasaan ini, maka tidak akan ada lingkungan sosial seperti sekolah, ruang pengadilan maupun tempat kerja yang merupakan landasan berkehidupan.

Empati berhubungan dengan kepekaan terhadap emosi orang lain, memahami emosi itu dan bereaksi dengan cara yang tepat. Penelitian tentang bagaimana rasa empati berkembang harus merujuk pada cara anak memahami dan merespon emosi dibanding pada bagaimana mereka mengenalinya. Anak yang memiliki kesulitan dengan empati biasanya tidak sulit untuk mengidentifikasi reaksi emosi pada orang lain, namun kadang tidak memahami tujuan maupun alasannya.

Pada sebagian anak, empati biasanya muncul secara natural. Anak lain mungkin bisa memahami emosi anak lainnya, namun memilih untuk merespons dengan cara yang kurang sesuai, seperti dengan bersikap agresif.

Di sisi lain, anak-anak autis mungkin sangat sensitif pada emosi orang lain tapi di saat yang sama memiliki kesulitan untuk memahami emosi itu dan tidak tahu bagaimana mesti merespons. Kesulitan ini dapat berakibat pada pengalaman sosial yang negatif, yang mengarah pada kepercayaan diri yang kecil dan menutup diri dari lingkungan sosial.

empati anak

Awali dengan Meniru

Pengalaman awal interaksi sosial membentuk cara kita merespons orang lain. Eksperimen klasik pada 1960-an menunjukkan bahwa anak-anak lebih agresif setelah melihat dan meniru perilaku agresif tertentu. Ini mungkin tampaknya tidak ada hubungannya dengan empati, tetapi sebenarnya menunjukkan betapa pentingnya meniru bagi anak-anak untuk mempelajari pola respons emosional.

Bayi yang baru lahir mungkin tidak terlalu interaktif tetapi mereka mampu melakukan peniruan wajah sederhana. Dalam beberapa bulan, bayi berkembang menjadi mampu membalas senyum.

Pada usia tiga bulan, bayi mencerminkan emosi orang tua mereka. Misalnya, bayi dari ibu dengan tingkat kecemasan tinggi terbukti lebih sedikit tersenyum daripada yang lain karena ibu mereka kurang tersenyum. Mungkin kita tidakmenyadarinya, tetapi ini adalah tahap pertama dari empati.

Antara enam dan 12 bulan, seorang bayi dapat membedakan berbagai jenis ekspresi dan mulai memahami bahwa orang lain memiliki maksud tertentu. Perilaku imitasi berlanjut dan menjadi lebih sering selama dua tahun pertama kehidupan.

Pada tahun kedua, anak-anak juga mengembangkan kemampuan untuk berpura-pura dan meniru perilaku untuk mensimulasikan emosi pada orang lain. Ekspresi emosional pada orang lain membangkitkan ingatan seorang anak tentang pengalaman-pengalaman emosional yang serupa – dasar empati.

empati ibu anak

Pada usia empat tahun, anak-anak dapat membedakan kebenaran dari kepalsuan dan perilaku yang disengaja dari tindakan yang tidak disengaja. Meskipun ini adalah metode yang baik untuk belajar empati, itu tidak berarti bahwa seorang anak akan berkembang sepenuhnya melalui hal ini. Empati adalah sesuatu yang terus kita kembangkan selama sisa hidup kita.

Empati ini adalah sesuatu yang dapat ditanamkan – dengan mengandalkan orang dewasa dan teman sebaya yang memerankan respons emosional yang tepat terhadap peristiwa dengan tingkat kerumitan yang berubah.

Ini juga tergantung pada kemampuan untuk mencerna, membayangkan dan merefleksikan pengalaman emosional, yang menjelaskan mengapa membaca buku fiksi dapat meningkatkan empati.

Tetapi akan selalu ada perbedaan dalam setia individu dalam kemampuan untuk belajar dari pengalaman masa lalu dan menentukan respons. Penting juga untuk diingat bahwa anak-anak yang secara emosional mengalami lingkungan negatif atau tidak peduli cenderung mengembangkan harapan emosi yang berbeda pada orang lain, mungkin seperti menemukan emosi yang lebih positif atau lebih kompleks yang sulit untuk dipahami.

Leave a Comment